Kerja-Kerja yang Luput dari Upah: Kerja Domestik, Tubuh Perempuan, dan Rantai Produksi Kehidupan yang Tak Pernah Diakui

Oleh : Firda Ainun Ula

Pagi itu dimulai dengan suara yang tidak pernah dianggap sebagai “kerja”. Bunyi wajan yang bersentuhan dengan api, air yang mendidih terlalu cepat, dan langkah kaki yang bolak-balik antara dapur dan ruang tengah. Tidak ada absensi. Tidak ada upah. Tidak ada kontrak. Tapi dari sinilah kehidupan dimulai.

Saya mencatatnya sebagai seseorang sedang mengamati ritual: seorang ibu bangun sebelum semua orang, menyiapkan sarapan, membangunkan anak, memastikan seragam rapi, lalu mencuci piring yang bahkan belum sempat dingin. Semua itu terjadi sebelum jam kerja “resmi” dimulai—yang ironisnya seringkali disebut sebagai satu-satunya kerja yang produktif.

Di titik ini, saya mulai curiga: bagaimana mungkin sesuatu yang menopang seluruh aktivitas ekonomi justru tidak dianggap sebagai bagian dari ekonomi itu sendiri?. Kita hidup dalam ekonomi yang punya ingatan selektif. Ia mengingat apa yang menghasilkan uang, tetapi melupakan apa yang membuat uang itu mungkin ada.

Kerja domestik—memasak, membersihkan, merawat anak, menjaga orang sakit—disebut sebagai unpaid care work. Sebuah istilah yang terdengar teknis, tapi sebenarnya menyimpan ironi: kerja yang menopang kehidupan justru tidak dianggap sebagai bagian dari ekonomi.

Padahal jika dihitung, nilainya tidak kecil. Secara global, kerja perawatan yang tidak dibayar menyumbang setidaknya sekitar 13% dari total PDB dunia. Dalam beberapa pendekatan, bahkan bisa mencapai 15 hingga 50% dari ekonomi nasional. Angka yang terlalu besar untuk disebut sepele, tetapi terlalu lama diabaikan untuk dianggap penting. Di sinilah lancarnya roda ekonomi menjadi janggal: ia berdiri di atas sesuatu yang tidak diakuinya sendiri.

Ketimpangan dalam kerja ini juga bukan kebetulan. Ia punya pola yang rapi—dan bias yang jelas.

Perempuan mengerjakan sekitar 75% dari seluruh kerja perawatan yang tidak dibayar. Mereka menghabiskan waktu rata-rata 2,5 kali lebih banyak dibanding laki-laki untuk pekerjaan domestik. Dalam satu studi penggunaan waktu, perempuan bisa menghabiskan lebih dari lima jam sehari untuk kerja-kerja ini, sementara laki-laki hanya sebagian kecilnya. Angka-angka ini terasa dingin, sampai kita melihat bagaimana ia bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Saya pernah mendengar seorang ibu berkata, “Kalau saya tidak melakukan ini, ya tidak ada yang makan.”Kalimat itu mungkin tampak biasa, tapi di dalamnya ada struktur besar yang bekerja, kerja perawatan tidak dianggap sebagai pilihan, melainkan kewajiban. Ia melekat pada tubuh perempuan, seolah-olah sudah ditentukan sejak lahir.

Ketimpangan ini bahkan dimulai sejak kecil. Anak perempuan, secara global, menghabiskan ratusan juta jam lebih banyak dibanding anak laki-laki untuk pekerjaan rumah tangga setiap harinya. Mereka belajar sejak dini bahwa merawat adalah tugas mereka—bahkan sebelum mereka tahu bahwa itu adalah kerja.

Masalahnya menjadi semakin rumit ketika kita bicara tentang “produktivitas”.

Dalam logika ekonomi yang dominan, sesuatu disebut produktif jika menghasilkan uang. Maka memasak di rumah tidak dianggap produktif, tetapi memasak di restoran dianggap sebagai pekerjaan. Merawat anak sendiri tidak punya nilai ekonomi, tetapi menjadi pengasuh anak orang lain bisa diberi upah. Di sini, nilai kerja tidak ditentukan oleh manfaatnya, tetapi oleh posisinya dalam pasar.

Akibatnya, perempuan sering kali terjebak dalam dua dunia sekaligus, mereka masuk ke pasar kerja, tetapi tidak pernah keluar dari tanggung jawab domestik. Beban ini bukan hanya soal kelelahan, tetapi juga soal kesempatan yang hilang.

Silvia Federici mengingatkan bahwa kerja domestik yang tidak dibayar bukan sekadar “terlupakan”, tetapi memang dikeluarkan dari sistem upah dalam rantai produksi kehidupan sehari-hari. Bagi Federici, ekonomi yang kita kenal hari ini tidak hanya bergantung pada kerja berbayar di kantor, pabrik, atau sektor formal lainnya, tetapi juga pada kerja perawatan di rumah—yang memastikan manusia tetap hidup, sehat, dan siap bekerja setiap hari. Artinya, sebelum seseorang menjadi “tenaga kerja”, ada proses panjang yang membuatnya bisa bekerja, makan, dirawat, dibesarkan, dipulihkan ketika sakit. Semua itu terjadi di ruang domestik. Dalam kerangka ini, dapur sebenarnya adalah bagian dari rantai produksi sosial, tempat di mana “tenaga kerja” diproduksi dan dipulihkan. Bedanya, kerja di dapur tidak dihitung sebagai produksi, dan tidak diberi upah.

Di sinilah letak persoalannya: kerja perawatan menjadi fondasi dari seluruh aktivitas ekonomi, tetapi posisinya disembunyikan agar tetap gratis.

Federici juga mengkritik bagaimana kerja domestik sering dibungkus dengan narasi cinta, pengabdian, atau kodrat. Ketika kerja disebut sebagai cinta, ia kehilangan statusnya sebagai kerja. Ketika ia dianggap kodrat, ia tidak bisa ditolak. Dan ketika ia tidak diakui sebagai kerja, maka ia tidak perlu dibayar.

Jika kita melihatnya dengan cara ini, maka dapur bukan lagi sekadar ruang privat, tetapi bagian dari sistem produksi kehidupan yang selama ini tidak diakui, tempat di mana kerja terjadi, nilai diciptakan, tetapi upah tidak pernah diberikan.

Banyak perempuan akhirnya tidak bisa bekerja penuh waktu, atau bahkan tidak bekerja sama sekali, karena pekerjaan rumah tangga. Dalam beberapa studi, sekitar satu dari lima perempuan tidak masuk ke dunia kerja karena beban domestik—angka yang jauh lebih tinggi dibanding laki-laki. Waktu mereka habis, bukan karena mereka tidak produktif, tetapi karena produktivitas mereka tidak diakui.

Yang lebih mengganggu, sejak dulu hal ini tampak normal bahkan jika seorang perempuan tidak melakukannya akan dianggap aneh dan menyalahi kodrat. Kita tumbuh dalam budaya yang menganggap perempuan di dapur sebagai sesuatu yang wajar. Kita jarang mempertanyakan mengapa pekerjaan ini tidak dibagi secara adil, atau mengapa negara dan pasar tidak mengambil peran lebih besar dalam kerja perawatan.

Padahal dampaknya meluas ke mana-mana, ke pendidikan yang tertunda, ke pekerjaan yang terbatas, ke penghasilan yang lebih rendah, bahkan ke kesehatan yang terabaikan. Kerja perawatan bukan sekadar urusan rumah tangga. Ia adalah persoalan politik—tentang siapa yang punya waktu, siapa yang punya pilihan, dan siapa yang akhirnya punya kuasa.

Jika kita serius ingin membicarakan keadilan, maka kerja perawatan harus dipindahkan dari pinggiran ke pusat. Ia harus diakui, dihitung, dan didistribusikan ulang. Pengakuan berarti mengubah cara kita berbicara. Berhenti menyebutnya sebagai “kodrat”, mulailah menyebutnya sebagai kerja. Pengurangan berarti menghadirkan infrastruktur publik—layanan pengasuhan anak, air bersih, teknologi rumah tangga, yang meringankan beban. Distribusi ulang berarti membagi kerja ini secara adil antara laki-laki dan perempuan, serta antara negara, pasar, dan keluarga. Namun lebih dari itu, yang paling sulit adalah mengubah cara kita memandang nilai.

Selama kita masih percaya bahwa hanya kerja yang menghasilkan uang yang layak dihargai, maka dapur akan tetap menjadi ruang sunyi—tempat kerja keras yang tidak pernah masuk laporan, tetapi selalu menopang dunia.

Menjelang siang, dapur kembali sunyi. Semua sudah selesai dikerjakan. Rumah kembali rapi, makanan sudah tersedia, anak-anak sudah berangkat. Tidak ada yang berubah, kecuali satu hal,  kerja itu kembali tidak terlihat. Padahal jika kita jujur, dunia ini berdiri di atas kerja-kerja yang luput dari upah itu.

Dan mungkin, masalah terbesar kita bukan karena tidak punya data. Angka-angka itu sudah ada, bahkan terlalu jelas untuk diabaikan. Masalahnya adalah kita terlalu lama hidup dalam sistem yang memilih untuk tidak melihatnya. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kerja ini penting. Pertanyaannya: sampai kapan kita terus menyebutnya bukan kerja?

Sumber :

ActionAid. (2016). Make the house become home: Policy brief. ActionAid Vietnam.

Federici, S. (2012). Revolution at point zero: Housework, reproduction, and feminist struggle. PM Press.

International Labour Organization. (2009). The unpaid care work–paid work connection. ILO.

Kalyanamitra. (n.d.). Mengenal kerja perawatan: Fondasi kehidupan yang kerap dilupakan. Diakses dari https://kalyanamitra.or.id/artikel/mengenal-kerja-perawatan-fondasi-kehidupan-yang-kerap-dilupakan/

Firda Ainun Ula adalah anggota Pusat Studi Kependudukan dan Kesejahteraan Keluarga Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Sedang menempuh program magister di Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada.