Gunungkidul, sebuah kabupaten di tenggara Yogyakarta, dikenal karena keindahan alamnya yang memesona. Bukit-bukit karst yang menjulang, gua-gua purba yang eksotis, dan pantai-pantai yang menawan telah menjadikan wilayah ini sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Pulau Jawa. Namun di balik panorama alam yang menakjubkan itu tersembunyi sebuah tragedi yang muncul di tengah masyarakat. Tragedi itu bernama bunuh diri yang terus berulang dari tahun ke tahun.

Fenomena bunuh diri di Gunungkidul bukan sekadar peristiwa individual semata. Ia telah menjadi masalah sosial yang kronis dan memprihatinkan. Dalam lima tahun terakhir data menunjukkan bahwa telah terjadi ratusan kasus bunuh diri. Kalau dibuat rata-rata, ada 31 kasus bunuh diri terjadi setiap tahunnya. Angka ini tergolong cukup tinggi untuk sebuah kabupaten yang jumlah penduduknya paling sedikit se-Yogyakarta.

Salah satu fakta yang cukup mengejutkan dari fenomena tersebut adalah semua kelompok usia, mulai dari remaja hingga lansia, ada catatan kasusnya. Tentu banyak faktor yang melatarbelakangi keputusan tragis ini. Dari sekian faktor yang mungkin permasalahan ekonomi merupakan yang paling menonjol, terutama di kalangan lansia dan keluarga miskin. Ketiadaan penghasilan tetap dan utang yang menumpuk akan menjadikan seseorang merasa bahwa dirinya menjadi beban bagi keluarganya. Hal ini seringkali memicu rasa frustrasi atau bahkan depresi jika sudah berlangsung lama.

Dalam kasus tertentu, rasa kesepian dan keterasingan sosial juga turut memperparah kondisi mental. Misalnya adalah mereka yang tinggal sendirian atau ditinggal pasangan hidup. Ketika mengalami permasalahan mental mereka enggan mencari bantuan karena takut terkena stigma warga masyarakat. Di Gunungkidul, orang yang memiliki gangguan mental akan dianggap gila. Bagi sebagian orang, mengakui bahwa dirinya gila sama artinya dengan tidak punya harga diri. Pada akhirnya, alih-alih mendapatkan pertolongan medis, mereka memilih memendam persoalan mental itu sendiri.

Bunuh diri juga bisa dipengaruhi oleh faktor kesehatan. Seseorang yang memiliki penyakit kronis akan mudah putus asa jika sudah tidak tahan dengan rasa sakit atau lelah menantikan kesembuhan. Biaya berobat yang tidak sedikit seringkali menjadi persoalan yang mengganggu pikiran. Apa yang  kemudian muncul adalah pikiran untuk mengakhiri hidup sebagai satu-satunya jalan keluar.

Mitos lokal seperti “Pulung Gantung” turut memperkuat persepsi masyarakat bahwa bunuh diri adalah sesuatu yang bisa diwariskan atau datang secara mistis. Pulung Gantung dipercaya sebagai semacam cahaya gaib yang menjadi pertanda akan terjadinya bunuh diri di suatu rumah atau wilayah. Kepercayaan ini membuat masyarakat cenderung bersikap pasrah terhadap fenomena ini dan tak ada yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.

Perselingkuhan, perceraian, dan konflik rumah tangga merupakan pemicu utama bunuh diri di kalangan usia produktif. Luka batin yang mendalam dan tekanan sosial karena aib keluarga seringkali lebih menyakitkan daripada luka fisik. Masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan keluarga melihat aib semacam itu sebagai beban berat yang sulit ditanggung.

Namun, jika ditelusuri lebih dalam, akar dari berbagai penyebab tersebut bermuara pada satu hal. Yaitu kurangnya edukasi tentang kesehatan mental dan pemberdayaan masyarakat. Kesadaran akan pentingnya menjaga kondisi psikologis masih sangat rendah. Banyak orang tidak memahami bagaimana mengenali tanda-tanda stres, depresi, atau kecemasan, apalagi bagaimana mengatasinya. Di samping itu, dalam hal ekonomi, mereka juga belum terlatih untuk mengelola sumber daya secara efektif sehingga rentan mengalami krisis.

Membangun Gunungkidul Berdaya dan Sehat Mental

Upaya menanggulangi tragedi bunuh diri di Gunungkidul memang telah dilakukan. Pemerintah daerah telah mengadakan sosialisasi kesehatan mental, pelatihan keterampilan, hingga program pendampingan lansia. Namun, hasilnya masih terbatas karena minimnya tenaga profesional dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam membicarakan masalah pribadi.

Fenomena bunuh diri ini menunjukkan adanya krisis makna hidup di tengah masyarakat. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, banyak individu yang kehilangan arah dan tujuan hidup. Identitas budaya lokal yang dulu menjadi pegangan kini mulai memudar, tergantikan oleh nilai-nilai individualisme yang asing.

Solusi atas tragedi ini tidak bisa hanya bersifat permukaan. Diperlukan pendekatan lintas sektor yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, agama, dan tentu saja keluarga. Pendidikan tentang kesehatan mental harus dimulai sejak usia dini di sekolah-sekolah. Guru dan orang tua perlu diberi pelatihan untuk mengenali gejala gangguan psikologis dan membangun komunikasi yang sehat dengan anak-anak.

program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas dapat menjadi solusi jangka panjang. Pelatihan kewirausahaan, akses modal usaha, dan pendampingan berkelanjutan dapat membuka harapan baru bagi masyarakat miskin agar tidak terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan keputusasaan.

Komunitas juga perlu dikuatkan sebagai ruang aman bagi warga untuk saling berbagi cerita dan beban hidup. Posyandu, karang taruna, dan kelompok arisan bisa dijadikan sarana untuk membangun ikatan sosial yang kuat. Rasa memiliki terhadap komunitas akan mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan daya tahan mental seseorang.

Media sesungguhnya memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik. Pemberitaan mengenai kasus bunuh diri harus dilakukan dengan bijak, menghindari glorifikasi atau detail teknis yang dapat memicu imitasi. Sebaliknya, media harus lebih banyak menampilkan kisah-kisah inspiratif tentang mereka yang berhasil bangkit dari keterpurukan.

Peran agama pun tak boleh dilupakan. Namun spiritualitas yang dihadirkan harus menenangkan, bukan menghakimi. Para pemuka agama perlu diberikan pelatihan tentang kesehatan mental agar dapat memberikan bimbingan yang relevan dan penuh empati.

Akhirnya, semua upaya ini bermuara pada satu hal: membangun kesadaran bahwa setiap nyawa berharga. Gunungkidul punya modal sosial dan budaya yang besar. Kearifan lokal, gotong royong, dan nilai kekeluargaan bisa menjadi fondasi untuk membangun masyarakat yang tangguh, empatik, dan saling menopang. “Bumi Gantung” bukanlah kutukan yang harus ditakuti, melainkan panggilan moral bagi kita semua. Agar tidak ada lagi nyawa yang hilang dalam diam. Agar keindahan alam Gunungkidul selaras dengan kesehatan jiwa warganya.(ASE)

Penulis: Ainun Nurullah (Peer-Councelor Klinik K2+ & Mahasiswa PBI UNU Yogyakarta)